Selasa, 20 Desember 2016

Aplikasi Android Untuk mendapatkan Infomasi Masjid

View Article
Jejaring sosial dapat dimanfaatkan untuk hal manfaat apalagi di momen ibadah bulan Ramadhan

Jejaring sosial virtual mestinya dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang sarat manfaat khususnya dalam peningkatan kualitas iman dan ibadah apalagi di momen ibadah bulan Ramadhan.
Terdorong untuk mendukung semangat tersebut, belum lama ini AlgoStudio yang berkedudukan di Kota Malang, Jawa Timur, meluncurkan aplikasi jejaring sosial Masjidku. Aplikasi ini dapat diundung di laman resminya www.masjidku.id.

Chief Technology Officer Masjidku Adib Toriq mengatakan aplikasi yang telah tersedia di Android App dan App Store untuk iPhone ini adalah sebagai media komunikasi umat.
Selain itu, kata Adib Masjidku bertujuan meringankan biaya operasional yang dikeluarkan oleh masjid untuk komunikasi dan penyiaran informasi. Dengan begitu kami berharap dapat meningkatkan partisipasi dan rasa kepemilikan umat Islam terhadap masjidnya.

“Aplikasi Masjidku bertujuan menghubungkan masjid dengan jamaah. Dimana nanti di sana pengguna dapat secara realtime menerima pemberitahuan informasi kegiatan-kegiatan masjid yang diikuti,” kata Adib Toriq dalam perbincangan santai dengan Hidayatullah.com, Sabtu (13/06/2015).

Dijelaskan, Adib, tim AlgoStudio yang menggarap aplikasi Masjidku ingin memanfaatkan teknologi untuk mengoptimalkan komunikasi antara masjid dan jamaahnya dengan menyuguhkan fasilitas penyampaian dakwah, pengelolaan kegiatan keagamaan, serta pelaporan infaq dan shodaqoh secara real-time dan akurat melalui fitur infaq online.

Aplikasi yang resmi diluncurkan hari Jum’at kemarin tersebut merupakan aplikasi jejaring sosial masjid pertama di Indonesia. Dalam keterannya Adib juga melontarkan bahwa Masjidku adalah aplikasi media sosial Islami ditujukan dan dapat digunakan oleh kaum muslimin dan muslimat untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain guna penguatan Ukhuwah Islamiyah di antara mereka.

Layaknya jejaring sosial pada umumnya kebanyakan, Masjidku juga menerapkan konsep follow untuk mendapatkan informasi kegiatan masjid tertentu. Pengguna Masjidku akan menerima push notification untuk semua kegiatan, berita, maupun infaq dari masjid-masjid yang mereka follow.

Sedang untuk pengelola masjid, Masjidku memberikan fasilitas untuk mengatur kegiatan dakwahnya, melihat laporan infaq shodaqoh secara real-time, serta membuat dan mengatur publikasi artikel dakwah di halaman masjid yang dikelola.

Sejak diluncurkan kemarin, sebut Adib, Masjidku telah memiliki lebih dari 1.250 pengguna serta 11 masjid yang tergabung dalam jejaringnya.

Aplikasi ini menyediakan beberapa fitur diantaranya pencarian masjid terdekat, pendaftaran kajian Islami, informasi seputar dakwah dan kegiatan di masjid, serta laporan kebutuhan dan penggunaan infaq shodaqoh. Selain itu juga ada fitur-fitur lain untuk menunjang pelaksanaan ibadah seperti jadwal sholat, pengingat sholat, dan penunjuk arah kiblat.

“Fitur andalannya adalah push notification yang memungkinkan pengguna mendapatkan pembaharuan informasi apa saja seputar kegiatan masjid-masjid yang follow,” ujarnya Adib.
Masjidku juga menyajikan sub fitur berupa infaq online bekerja sama dengan Artajasa. Dengan aplikasi ini, pengguna juga dimungkinkan untuk melakukan infaq secara online. Untuk memberikan solusi ini pihak Masjidku telah bekerja sama dengan PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa).
Ditanya soal pembiayaan aplikasinya, Adib mengakui masih dilakukan secara independen (bootstraping) dari tim relawan pengembang. Dia mengatakan tetap terbuka menerima pemodal untuk mengembangkan aplikasi yang dirintisnya ini mengingat ekosistem startup teknologi segmen muslim masih sangat potensial.

“Tapi kita sama sekali belum berfikir ke sana, sekarang kita fokus dulu untuk pengembangan. Selama sesuai dengan visi kami, kenapa tidak,” tukasnya.
Ia memungkasi, selain bisa dimanfaatkan dalam Android dan iPhone, pihaknya berencana juga membuat aplikasi ini dalam versi desktop dan lainnya.

Penciptaan Langit Dan Bumi Menurut Al Quran dan Ilmu Geologi

View Article
Bumi merupakan planet yang kita tempati, bagaimana sebenarnya proses Penciptaan bumi kita ini? Nah jawaban dari pertanyaan itulah yang akan sahabat temukan dalam postingan kali ini.

Tentang Penciptaan Langit Dan Bumi Menurut Al Quran dan Ilmu geologi. Penciptaan Langit Dan Bumi Menurut Al Quran

penciptaan Langit dan Bumi menurut Al Qur’an terdapat di Surat Al Anbiyaa’ 21:30, menunjukan keadaan Bumi dan langit saat yang awal mula:

Al Anbiyaa’ 21:30, Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?


Surat Fushshilat 41: 9-12, menyajikan urutan pengerjaan Bagaimana penciptaan yang dilakukan Allah:

Pertama,(41:9) Bumi di ciptakan dalam dua masa

Kedua, (41:10) Segala isi Bumi diciptakan total dalam empat masa

Ketiga, (41:11) Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” Surat diatas jelas menunjukan bahwa kedudukan Bumi dan Langit adalah sederajat, bumi bukan bagian dari langit. Bumi diciptakan terlebih dahulu, diselesaikan baru kemudian Allah menyelesaikan Langit dan itu dibuktikan di ayat selanjutnya

Keempat, (41:12) Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Surat An Naazi’ aat 79:27-33, juga menyajikan urutan pengerjaan penciptaan yang dilakukan Allah! Allah menyatakan bahwa penciptaan Manusia itu jauh lebih mudah daripada penciptaan Langit. Ia meninggikan Bangunannya lalu menyempurnakannya (79:28). Kemudian ia Menciptakan siang dan malam. Kemudian bumi dihamparkannya (diisi) Caranya: memancarkan Air dan menumbuhkan tumbuhan, gunung-gunung dipancangkan teguh (79:31-32). Untuk apa? Untuk kesenangan Manusia dan binatang ternak milik manusia (79:33)

Al Baqarah yang diturunkan Allah di 2 H (624 M). Surat ini termasuk golongan surat Al madaniyya yang turun lebih belakangan dari surat Al Makiyya lainnya yaitu 41, 51, 21 dan surat 79. Di surat Al Baqarah 2:29, Muhammad dan Jibril bersabda bahwa: Ia yang menjadikan segala sesuatunya untukmu di Bumi. Kemudian Ia meninggikan (Iswata ila) langit dan dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Setelah semuanya siap, di dilanjutkan dengan penciptaan Adam di Al Baqarah 2:30-36, surat itu memperkuat surat-surat penciptaan manusia yang turun sebelumnya yaitu di 7:10-24, 15:26-33 dan 38:71-84. Disebutkab bahwa Adam diciptakan dari tanah kemudian Allah berkata, ‘Jadilah!’ [3:59] Pernyataan di surat Al Baqarah 2:29-36 sangat jelas, terstruktur dan ada urutannya! yaitu menciptakan Bumi, kemudian langit plus 7 langit dan terakhir Penciptakan Manusia.

Jadi, saat manusia diciptakan maka penciptaan langit sudah final, tidak ada pengembangan langit lagi. Bukti itu ada di ayat 2:31 Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!


Penciptaan Langit Dan Bumi Menurut Ilmu geologi

Berikut kutipkan dari Dr. Maurice Buchaile tentang ayat-ayat penciptaan alam di Al Quran:
BERHADAPAN DENGAN AYAT-AYAT QUR-AN TENTANG PENCIPTAAN ALAM
Marilah kita selidiki lima dasar yang menjadi landasan Qur-an untuk menceritakan tentang penciptaan alam.


1) Enam masa daripada penciptaan langit-langit dan bumi, menurut Qur-an, meliputi terbentuknya benda-benda samawi, terbentuknya bumi dan perkembangan bumi sehingga dapat dihuni manusia.

Untuk hal yang terakhir ini, Qur-an mengatakan, segala sesuatu terjadi dalam empat waktu. Apakah empat waktu itu merupakan zaman-zaman geologi dalam Sains modern, karena menurut Sains modern, manusia timbul pada zaman geologi ke empat? Ini hanya suatu hipotesa; tetapi tak ada jawaban terhadap soal ini. Tetapi perlu kita perhatikan bahwa untuk pembentukan benda-benda samawi dan bumi sebagai yang diterangkan dalam ayat 9 sampai dengan 12, surat 4, diperlukan dua tahap. Sains memberi tahu kepada kita bahwa jika kita mengambil contoh (satu-satunya contoh yang sudah mungkin diketahui) daripada pembentukan matahari dan embel-embelnya, yakni bumi, prosesnya melalui padatan (kondensasi) nebula (kelompok gas) dan perpecahannya. Ini adalah yang dikatakan oleh Qur-an secara jelas dengan proses yang mula-mula berupa asap samawi, kemudian menjadi kumpulan gas, kemudian berpecah. Di sini kita dapatkan persatuan yang sempurna antara penjelasan Qur-an dan penjelasan Sains.

2) Sains telah menunjukkan simultanitas antara dua kejadian pembentukan bintang (seperti matahari) dan pembentukan satelit-satelitnya, atau salah satu satelitnya (seperti bumi). Bukankah simultanitas ini telah nampak juga dalam teks Qur-an seperti yang telah kita ketahui?

3) Nampak persesuaian antara wujudnya asap pada permulaan terciptanya kosmos, yaitu asap yang dipakai oleh Qur-an untuk menunjukkan gas yang banyak dalam materi yang menjadi asal kosmos dan konsep Sains modern tentang nebula primitive (kelompok gas asli)

4) Kegandaan langit-langit yang diterangkan oleh Qur-an dengan simbul angka 7 yang sudah kita fahami artinya telah dibenarkan oleh Sains modern dalam pernyataan ahli-ahli astrofisika tentang sistem galaksi dan jumlahnya yang amat besar. Di lain fihak wujudnya bumi-bumi yang mirip dengan bumi kita dari beberapa aspek adalah suatu hal yang dapat kita fahami daripada teks Qur-an, tetapi sampai sekarang Sains belum dapat membuktikannya. Bagaimanapun keadaannya, para spesialis menganggap bahwa adanya bumi semacam itu sangat mungkin

5) Adanya suatu penciptaan pertengahan antara langit-langit dan bumi seperti yang dijelaskan Qur-an dapat dimengerti dengan diketemukannya jembatan-jembatan materi yang terdapat di luar sistim astronomik teratur.


Jika segala soal yang ditimbulkan oleh ayat-ayat Qur-an sampai sekarang belum dapat diterangkan secara menyeluruh oleh ilmu pengetahuan, sedikitnya tak terdapat pertentangan antara ayat-ayat Qur-an dan pengetahuan modern tentang penciptaan kosmos.